Judi Poker Domino 99 Online
Agen Poker Domino QQ Online
Agen Poker Domino QQ Online
Agen Judi BandarQ Bandar Poker Domino Online Indonesia | 23-05-2016
Agen Judi Bola Terpercaya | 25-03-15 Togel Online | 8-11-17
Agen Togel Nasional Online
Judi Poker Domino 99 Online
Bandar Poker BandarQ Online ituPoker | 19-4-2016
Pasang Iklan
Dewi365 Agen judi Bola, Bandar Bola, Agen Bola, Sbobet, Ibcbet, Judi Bola Online Terbaik dan Terpercaya
Bola168 Agen Judi Bola, Bandar Bola, Agen Bola, Sbobet, Ibcbet , Piala dunia 2018

Cerita Panas Kakak Kandungku Menjadi Pemuas Sexku

Cerita Panas Kakak Kandungku Menjadi Pemuas Sexku

Cerita Panas Kakak Kandungku Menjadi Pemuas Sexku – Hey para pembaca sebut saja namaku Irvan, usiaku 22 tahun dan statusku kini sebagai mahasiswa. Aku adalah anak kedua dari di keluargaku. Anak pertama dari keluargaku adalah kakak wanitaku yang bernama Dina. Kak Dina ini berusia 2 tahun diatasku, dia baru saja menyandang gelar sarjana hukumnya dibulan ini. Kak Dina ini mempunyai postur tubuh bohay sekali, selain bohay kulitnya juga putih mulus, payudara montok dan pantat yang semok.

Kak Dina mempunyai tinggi berat badan 59kg dan tinggi badan 169cm, tentu para pembaca bisa membayangkannya dengan gambaran kakak kandungku yang bohay dan tinggi itu. Banyak teman-teman cowok kakakku yang yang suka pada kakakku, dan jujur saja aku sendiri saja suka sama kakak kandungku. Entah aku ini bisa dibilang hypersex atau tidak, karena aku mempunyai kebiasaan onani hampir setiap hari.

Bahkan aku onani bisa 3 kali sehari dengan menghayalkan Kak Dina. Pada keseharianku aku sering sekali secara diam-diam aku pergi kekamar Kak Dina untuk mengintipnya ketika dia tidur. Sampai pada suatu siang, aku melihat Kak Dina sedang berbaring di kursi pada ruang tamu dengan memakai rok mini dan baju ketat kesukaannya. Saat itu secara diam-diam aku perhatikan dia, ternyata siang itu dia sedang tidur.

Karena dia tertidur aku pun bisa melihat tubuhnya yang sintal itu dengan puasnya, dan saat itu mataku tertuju pada pahanya yang putih mulus. Melihat pahanya itu secara spontan birahiku pun mengebu-gebu. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, kemudian aku pun mendekatinya, lalu jongkok dibawahnya dan meraba paha mulusnya yang putih itu. Dengan berhati-hati aku mengangkat roknya keatas dan terihatlah celana dalamnya yang menutupi area kewanitaannya.

Melihat itu, nafsuku semakin menjadi-jadi saja. Ketika aku menyingkapkan rok mininya, Kak Dina masih saja tertitidur pulas, kini aku pun memberanikan diri untuk menurunkan celana dalamnya dengan extra hati-hati sampai atas lututnya. Setelah kupastikan aman, kemudian aku pun mulai meraba kewanitaannya yang terlihat mengunduk dan mulai kuraba secara perlahan agar Kak Dina tidak terbangun.

Saat itu jantungku berdetak kencang, dan nafasku semakin cepat tidak beraturan karena menahan birahiku yang semakin menjadi-jadi saja. Sungguh kewanitaan Kak Dina sangat indah dan menggemaskan. Kini mulailah aku menyelipkan jariku pada belahan kewanitaan Kak Dina yang sudah mulai basah itu. Aku tidak menyangka Kak Dina masih saja tertidur lelap dengan semua perlakuanku kepadanya, entah dia menikmatinya atau dia memang benar masih tertidur.

Tapi bodo amatlah yang penting dia masih tertidur, ini aku pun semakin berani. Mulailah aku memberanikan diri dengan menjilati kewanitaanya, dan tidak kusangka sampai saat ini Kak Dina masih saja tetap tertidur pulas. Sungguh beruntung sekali aku, saat itu aku menjilati kewanitaannya sampai kewanitaannya becek dengan lendir kawinnya. Hal itu membuatku semakin bernafsu saja.

Kini mulailah aku mengesek-gesekkan kejantananku diantara kedua paha mulusnya, Oughhh… sungguh nikmat sekali. Sungguh, saat itu aku merasakan rasa nikmat yang luar biasa, terasa geli-geli nikmat gimana gitu, Oughhh… Mantap. Setelah beberapa menit aku menggesek-gesekan kejantananku, kurasakan kejantananku berdeyut-denyut dan,

“Aghhhhhhhh… Crutttttttttt… Crutttt… Crutttt…”.

Keluarlah lahar panasku dari kejantananku, di paha Kak Dina, sungguh nikmat sekali. Setelah sejenak aku menikmati sisa-sisa kenikmatanku, kemudian aku pun bergegas membersihkan paha Kak Dina dan segera kupakaikan kembali celana dalam Kak Dina dengan perlahan agar dia tetap terjaga dalam tidurnya. Setelah itu aku pun kembali kekamar, di dalam kamar aku terus membayangkan hal itu, jujur saja hal ini adalah pengalaman pertamaku dengan seorang wanita.

Singkat cerita pada dini hari pukul 2 pagi, aku secara diam-diam masuk kekamar Kak Dina dan bermaksud ingin mengulang hal yang seperti siang tadi. Saat itu aku melihat Kak Dina tertidur menggunakan piama terusan yang sexy. Mulailah aku mendekati dan aku buka pelan-pelan piama Kak Dina. Ternyata Kak Dina saat itu tidak memakai celana dalam dan BH. Saat itu terlihatlah payudara yang kira-kira ukuran BH nya 34B, sungguh menakjubkan. Mulailah kini aku meremas dan menjilati puttingnya yang berwarna kemerah mudaan itu.

Ketika aku menjilatinya, aku sempat mendengar Kak Dina mendesah dengan matanya yang masih terpejam. Setelah itu aku pun melanjutkan aktifitasku kearah kewanitaannya. Kini mulailah aku menjilati clitorisnya sampai puas. Setelah beberapa menit kurasakan kewanitaaan Kak Dina berkedut-kedut. Dan,

“Syurrrrrrrrr… Syurrr…”.

Dijepitlah kepalaku dengan kedua pahanya dan kurasakan lidahku dialiri cairan hangat, yang ternyata itu adalah lendir kawin Kak Dina. Sejenak aku hentikan jilatanku, sambil kuperhatikan paha Kak Dina yang merapat seperti sedang menahan pipis. Kuperhatikan matanya yang terpejam tetapi nafasnya cepat. Kini aku pun membuka lebar pahanya dan kugesekkan kejantananku dibibir kewanitaannya.

Beberapa menit kulakukan itu pada akhirnya, aku menyemburkan kembali lahar panasku diatas perutnya.

“Ooughh… sungguh nikmat”.

Sebenarnya aku pengen merasakan gesekan dan cengkeraman otot kewanitaannya, tetapi aku takut dia bangun. Lagi pula dia kakak kandungku sendiri. Kubersihkan bekas air maniku dan kupakaikan kembali piamanya,lalu aku pergi tidur.

Keesokan harinya, aku tidak mencobanya lagi karena aku takut jika Kak Dina mengetahui kelakuanku padanya. So, aku cuma onani sambil berfantasi saja. Sampai suatu malam, hujan turun sangat lebat sekali. Aku tidak ada kegiatan, jadi aku berencana nonton bf dikamarku. Lagi asik-asiknya nonton, tiba-tiba pintu kamarku diketuk. Aku langsung mematikan tv dan membuka pintu. Tapi tidak ada orang, melainkan secarik kertas. Kuambil dan kututup pintu kamarku.

Disitu tertulis ( aku tahu apa yang kamu lakukan padaku saat itu, kalau berani coba lagi). Aku terkejut membacanya, mungkinkah Kak Dina tahu ? pikirku. Tapi kenapa dia menyuruh untuk melakukan lagi, tapi yasudahlah yang penting Kak Dina nggak marah dan dia suka. Dengan semangat campur nafsu setelah aku menonton video porno, aku mencoba pergi kekamar Kak Dina lagi, saat itu aku melihat matanya terpejam dan tubuhnya tertutup selimut.

Kemudian aku mendekati dan kutarik selimutnya, wow… ternyata Kak Dina kini nggak pakai baju alias telanjang bulat. Ketika aku sedang memandangi puttingnya yang merah, tiba-iba dia bangun dan memelukku, saat itu aku terkejut sekali dan aku spontan langsung berdiri.

“Kenapa, kamu menghindar ? kamu takut ? kemarin kok berani, ayo kemari nikmati tubuh Kakak lagi”, ujarnya.

Dengan rasa sedikit ragu aku pun menjawab,

“Yang bener nih Kak ?”, jawaku agak ragu.

Walau saat itu aku agak ragu, tapi yasudahlah aku terlanjur ketahuan. Saat itu aku langsung membuka bajuku dan langsung menerkamnya dan melumat bibirnya dan kuremas-remas payudaranya tak lupa aku hisap putting-nya.

“Ssshhh… Oughhh… Enak Van, terus… Sssshhh… Aghhhhh…”, desahnya.

Kira-kira setelah 5 menit, aku pun mulai menjamah payudaranya dan aku mulai menuju kewanitaan Kak Dina. Aku menelusuri tubuh Kak Dina, kulitnya yang putih mulus dan kencang aku belai mulai payudaranya, terus ke perut nya yang rata, pusarnya. Aku cium pusarnya dan terus ke bawah munuju selangkangan Kakak Dina. Harum aku cium tubuh Kak Dina. Sementara tangan Kak Dina mulai membelai kejantananku yang sudah tegang dari tadi.

“Oughhh…. nikmatnya…”, ucapku.

Desahku ketika jari tangan Kak Dina yang lentik dan lembut menggenggam kejantananku yang berdenyut. tanganku mulai meremas kewanitaan Kak Dina yang makin basah. Dengan bulu kewanitaan yang tidak terlalu lebat tapi tercukur rapih, aku bisa melihat belahan kewanitaan Kak Dina yang indah. Aku remas lembut dan aku belai kewanitaan Kak Dina.

“Oughhh… Vann… Sssshhh… Aghhh…”, desah Kak Dina.

Aku dekatkan lagi mukaku dengan selangkangan Kak Dina untuk ketiga kalinya, namun kali ini aku tak takut dan waswas seperti sebelumnya. Makin dekat kewanitaan Kak Dina dengan wajah ku hingga aroma kewanitaan Kak Dina yang merangsang makin terasa. Aku kecup lembut kewanitaan Kak Dina, dan Kak Dina langsung mendesah dan mengerang ketika bibirku bersentuhan dengan permukaan kewanitaan Kak Dina.

“Aghhh…. Irvann… nikmat… Oughhh…”, erang nikmat Kak Dina lagi.

Aku yang makin bennafsu langsung mencium dengan buas kewanitaan Kak Dina, Aku jilat dan hisap kewanitaan nya. Aku jilati cairan yang membasahi permukaan kewanitaan Kak Dina, aku terus menjilat kewanitaan-nya.

“Oughhhh…. Sssshhh… enak…. terus… Agh… Agh…”, erangnya.

Saat itu aku menjilati terus sampai kurasakan kewanitaannya menyemburkan cairan hangat dan berdenyut.

“Sssshhh… Aghhhhhhhh…”, terdengar erangan Kak Dina tanda dia orgasme.

Aku meremas-remas payudaranya agar nafsunya bangkit lagi. Kujilati sambil tanganku menggosok kewanitaan-nya yang basah,

“Ayo Vann, kontol kamu masukin… Cepetttt…. Aghhh…”, ucapnya.

Saat itu seperti yang sering kulihat di film porno, kubuka lebar selangkangannya dan kutusukkan kejantananku keliang surganya. Sulit sekali, pelan-pelan dan blessss amblas kejantananku terbenam dalam kewanitaannya.

“Oughhhhhh… Aghhhhhhhh…”, erang nikmatku.

Saat itu sementara tubuh Kak Dina sedikit tersentak saat kejantananku masuk kedalam liang surganya itu.

“Eughhhhhhh…”, erang Kak Dina sambil menggigit bibirnya tanda Kak Dina menikmati tusukan pertama kejantananku ke dalam kewanitaannya.

Rasanya kejantananku seperti dijepit kuat sekali. mulailah aku memompa maju mundur Kak Dina yang sudah tidak perawan lagi, aku tidak tahu siapa yang sudah merenggut keperawanannya. Saat itu aku melihat Kak Dina mulai menikmatinya, kini sodokanku makin cepat.

“Oughhh… Sssshhh…. Ayo Vann… lagi Vann… terus… Lebih dalem lagii… Aghhh….”, desah nimkatnya makin menjadi-jadi.

Dengan satu tangan menopang tubuhku, sambil menggoyang pantatku naik turun, tanganku meremas payudara Kak Dina yang lembut kenyal namun kencang. Tak hentinya Kak Dina mendesah dan mengerang saat sodokan demi sodokan kejantananku menembus kewanitaan Kak Dina. Suara kocokkan kejantananku dikewanitaan Kak Dina menambah suara yang ada di ruangan itu.

Kak Dina memejamkan matanya, tangannya ia naikan ke atas dan memegangin bantal dan meramasnya. Tanda Kak Dina sangat menikmati permainan ini dengan aku. Dengan posisi itu aku dapat melihat tubuh Kak Dina yang indah ramping, seperti sebuah gitar dengan lekuk yang mulus. payudaranya bergerak dan bergoyang seirama dengan sodokan kejantananku di liang ternikmat yang pernah aku rasakan.

Aku tak tahan hanya meremas payudaranya, sambil terus menggoyang pantatku aku cium dan lumat lagi payudara Kak Dina dan aku gigit kecil putting nya.

“Aghhh… Vann…. Oughhh…”, desahnya agak keras.

Saat itu aku mencium bibirnya yang merah hingga.

“Kak… Oughhh… aku mau keluar Kak…“, ujarku.

“Jangan keluarin dulu Vann, tahan dulu yah kita keluarin sama-sama, dan kamu keluari didalam aja Vann… Aghhhhh…”, ujarnya lagi.

Saat itu aku berusah menahannya, dan kira selang 2 menit pada akhirnya,

“Crutttttttttttt… Syurrr… Cruttt… Cruttt… Syurrr… Syurrr…”.

Pada akhirnya kami pun mendapatkan orgasme bersamaan, air maniku dan lendir kawin Kak Dina bercampur menjadi satu pada liang senggama Kak Dina. Kurasakan kejantananku berdenyut-denyut dan nikmat yang luar biasa yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku merasakan kenikmatannya itu sampai pada ubun-ubunku. Saat itu aku menanamkan kejantananku dalam-dalam di kewanitaan Kak Dina, sedangkan kaki Kak Dina menghimpit kuat pinggangku.

Sementara kurasakan kejantananku terbasahi lendir kawin Kak Dina, saat itu aku melihat Kak Dina mengejang menahan kenikmatan orgasmenya. Kejantananku kubiarkan tertanam didalam sebari menikmati otot kewanitaannya yang berkontraksi meremas-remas kejantananku. Setelah selesai menikmati, kemudian aku mencabut kejantananku dan aku berbaring disamping Kak Dina sembari meremas-remas payudaranya,

“Makasih ya Kak udah puasin aku”, ucapku.

“Iya Vann, permainan sex kamu juga nikmat kok”, ujarnya sambil tersenyum puas.

Setelah percakapan itu, aku pun tidak mau membuang-buang waktu yang nikmat ini. Kini aku melumat lagi bibir Kak Dina, dan bibir kami pun kembali berciuman dengan lembut layaknya seperti sepasang kekasih. Setelah kami berciuman, kali ini aku diminta kak Dina untuk berbaring terlentang, sementara Kak Dina memulai lagi permainan sex kami dengan berawal dari sebuah ciuman pada bibirku. Aku sendiri saat itu tidak diam saja, tanganku pun mulai meremas kedua payudaranya.

Setelah klimaks pertamaku, kejantananku yang tadinya sudah agak mendor kini mulai mengeras kembali. Tangan Kak Dina kemudian mengocok kejantanan-ku.

“Eughhh… Ssshhh… Aghhh…”, desahku merasakan nikmatnya kocokan Kak Dina.

Melihat kejantananku yang ereksi lagi, Kak Dina nampaknya sudah tidak tahan lagi dan dia langsung saja memposisikan tubuhnya diatas tubuhku. Dia mengatur posisinya hingga liang kewanitaannya tepat diatas batang kejantananku, lalu tangannya membimbing kejantananku pada liang senggamanya. Aku rasakan kewanitaan Kak Dina masih basah, dan ketika tepat kepala kejantananku berada di bibir kewaniataannya Kak Dina mengangkat tubuhnya dan perlahan memasukan kejantananku.

Karena kewanitaanya sudah licin, jadi kejantananku masuk dengan lancar ke dalam kewanitaan Kak Dina.

“Blessssssssssssss…”.

Saat kejantananku sudah masuk, aku pun terpejam dan mendesah di iringi jepitan kewanitaan yang licin dan hangat itu menelan kejantananku. Kak Dina yang sudah naik nafsunya langsung bergerak naik turun hingga mengocok kejantananku. Sebenarnya aku kurang merasa kenikmatan seperti tadi dengan posisi sekarang, namun melihat gerakan dan goyangan Kak Dina yang bersemangat, menunjukan Kak Dina sangat menikmati posisi kali ini.

“Eummmm… Sssshhh… Aghhhhhhhh….”, desah Kak Dina.

Saat itu aku biarkan Kak Dina yang menguasai permainan kali ini, dan memang Kak Dina sangat menyukai posisi di atas ini. Terbukti dengan goyangan pinggul Kak Dina yang makin liar hingga aku yang tadi agak pasif kembali mulai bergerak. Aku remas kedua payudara Kak Dina yang bergerak naik turun, kenyal dan lembut. Aku belai pinggangnya dan aku raba punggung mulus Kak Dina yang kemudian aku tarik hingga kami berciuman kembali.

Kak Dina membungkuk tapi pinggulnya terus bergerak liar, naik turun, berputar hingga kejantananku yang ada dalam kewanitaannya. Semakin terasa terjepit, namum sangat nikmat, aku mulai dengan pelan mengocok naik turun. Namun aku yang pertama kali merasakan gaya tersebut agak kaku yang membuat Kak Dina tersenyum di antara erangan dan desahannya. Aku cium payudaranya, aku remas, aku hisap putting-nya dengan gemas.

Saat itu Kak Dina pun merasa akan orgasme dengan goyangan pinggul yang makin cepat dan gerakkan naik turun pantatnya yang bahenol dan juga erangan, dan desahannya. Aku yang makin nafsu juga semakin aktif menggerakkan pinggulku, dan tanganku meremas payudara Kak Dina.

Oughhh… Sssshhh… Aghhh… Eumm… Vann… Kakak mau keluar… Aghhhhh…”, desahnya.

Pada akhirnya tubuh Kak Dina pun mengejang dan aku rasakan cairan hangat lagi di kejantananku yang masih ada di dalam kewanitaan Kak Dina.

“Aghhh… Syurrrrrrrrrrr….”, desahnya panjangnya di iringi klimaksnya.

Setelah itu kemudian tubuh Kak Dina terkulai lemas dan memposisikan tubuhnya rebahan di atas tubuhku hingga payudara Kak Dina menempel di dadaku. Aku biarkan beberapa saat dan aku juga menikmati remasan dari otot kewanitaan Kak Dina yang berkontraksi meremas dan menjepit batang kejantananku. Aku yang tidak mau kehilangan momen itu langsung membalikkan dan memutar tubuh Kak Dina hingga telentang dibawahku.

Setelah aku berada diatas Kak Dina masih dengan kejantananku di dalam kewanitaan Kak Dina, tanpa buang waktu aku pun mengenjot kembali kejantananku maju mundur dengan sekuat tenaga. Selang 10 menit kurasakan kejantananku nampaknya akan menyemburkan lahar panasnya lagi.

“Oughhh… Kak, aku mau keluar Kak”, ucapku.

Dan kemudian,

“Cruttttt… Cruttt… Cruttt…”.

Tersembulah air maniku aku di dalam rahim Kak Dina dan aku pun terkulai lemas di atas tubuh kakakku yang indah dan sintal itu. Setelah selesai, aku rasakan kenikmatan itu, aku berbaring lagi di sebelahnya sembari mencium bibir Kak Dina dengan ciuman kecil.

“Kamu hebat ngesex-nya ya Vann, makasih ya adiku sayang…”, ucap Kak Dina sambil tersenyum.

“Hehehe… Iya kak, Irvan juga makasih ya kak… Emuuuach…”, ucapku sambil mencium bibir Kak Dina.

Saat itu kami pun kehabisan tenaga, pada malam itu kami pun tidur seranjang karena kelelahan dan masih telanjang sambil berpelukan. Semenjak skandal kami itu, dirumah kami sering melakukan hubungan sex kapan saja ketika suasana aman. Sungguh hal yang menyenangkan bisa bersetubuh dengan kakak kandung yang sebohay dan seliar itu. Hubungan kami pun terus berlanjut sampai saat ini, entah sampai kapan hubungan kami ini berakhir, hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Share this post:

Related Posts