Judi Poker Domino 99 Online
Agen Poker Domino QQ Online
Agen Poker Domino QQ Online
Agen Judi BandarQ Bandar Poker Domino Online Indonesia | 23-05-2016
Agen Judi Bola Terpercaya | 25-03-15 Togel Online | 8-11-17
Agen Togel Nasional Online
Judi Poker Domino 99 Online
Bandar Poker BandarQ Online ituPoker | 19-4-2016
Pasang Iklan
Dewi365 Agen judi Bola, Bandar Bola, Agen Bola, Sbobet, Ibcbet, Judi Bola Online Terbaik dan Terpercaya
Bola168 Agen Judi Bola, Bandar Bola, Agen Bola, Sbobet, Ibcbet , Piala dunia 2018

Cerita Panas Ngentot Dengan Anak Kesayangan Ibu Sus

Cerita Panas Ngentot Dengan Anak Kesayangan Ibu Sus

Cerita Panas Ngentot Dengan Anak Kesayangan Ibu Sus – Seperti sebagian besar sahabat senasib, ketika menjadi pembelajar saya menjadi si kecil kos dengan seluruh menyukai serta dukanya. Mengenang masa-masa sekitar lima belas tahun seketika itu saya sering mengakak geli. Semisal, pasal alokasi paket dari kampung telat, walaupun perut keroncongan tak bisa diajak kompromi, saya terpaksa merampok nasi komplit dengan lauknya milik keluarga daerah saya kos. Masih banyak lagi kisah-kisah konyol yang saya natural. Tapi hakekatnya adanya satu cerita yang saya simpan rapat-rapat, pasal bagi saya adalah rahasia pribadi. cerita rahasia yang sangat menyenangkan

Keluarga daerah kos saya memiliki si kecil tunggal wanita yang sudah menikah serta tinggal di rumah orang tuanya. Mbak Sus, demikian kami si kecil-si kecil kos memanggil, berusia sekitar 35 tahun. tidak demikian itu menawan melainkan memiliki badan baik serta bersih. acuan oleh ibu kos, buah hatinya itu pernah melahirkan melainkan sesudah itu bayinya mati dunia. Jadi tak mengagetkan apabila wujud tubuhnya masih menggiurkan. Kami berlima si kecil-si kecil kos yang tinggal di rumah zona samping sering iseng-iseng memperbincangkan Mbak Sus. wanita yang apabila di rumah tak pernah mengaplikasikan bra itu menjadi tujuan ngobrol miring.

“Kau tahu nggak, mengapa Mbak Sus hingga sekarang nggak hamil-hamil?” tanya Robin yang kuliah di metoda sipil suatu ketika “Saya tahu. Suaminya letoi. Nggak bisa ngacung” jawab Krus, si kecil metoda mesin dengan tangkas “Apanya yang nggak bisa ngacung?” tanya saya pura-pura tidak tahu

“Tolol! Ya penisnya dong”, kata Krus “Kok tahu apabila ia susah ngacung?” saya mengejar lagi

“Lihat saja. Gayanya klemar-klemer kaya perempuan. Tahu nggak? Mbak Sus sering menghardik-hardik suaminya?” tutur Krus “Kalian saja yang nggak tanggap. Ia hakekatnya kan mengundang salah satu, dua, atau tiga di antara kita, dapat jadi justru seluruh, buat menolong”, kata Robin

“Menolong? apakah maksudmu?” tanyaku tak mengerti ucapannya Robin mengakak sebelum berkata, “Ya membantu ia agar dengan kencang hamil. Ia mengundang secara tidak segera. Lihat saja, ia sering memamerkan payudaranya terhadap kita dengan mengenakan kaus ketat. sesudah itu tiap-tiap berakhir mandi dengan hanya melilitkan handuk di tubuhnya lalu-lalang di depan kita”

“Ah kau saja yang GR. dapat jadi Mbak Sus nggak bermaksud demikian itu”, sergah Heri yang dari dikala tadi membisu “Nggak percaya ya? Ayo siapa yang berani masuk kamarnya ketika suaminya dinas malam, aku jamin ia tak akan menolak. Pasti”

Membisu-membisu ucapan Robin itu menginterupsi pikiranku. Benarkah apakah yang ia katakan mengenai Mbak Sus? Benarkah wanita itu sengaja mengundang daya Seks kami agar adanya yang masuk jebakannya?

Selama setahun kos membisu-membisu aku terang terang menyukai merasakan panorama yang dengan tak tersadari sering bikin penisku tegak berdiri. Khususnya payudaranya yang layaknya sengaja dipresentasikan dengan lebih banyak berkaus sehingga putingnya yang kehitam-hitaman kelihatan terlihat. disamping payudaranya yang kuperkirakan berukuran 36, pinggulnya yang besar sering membuatku terstimulasi.

Ah alangkah menyenangkan serta menggairahkan apabila saja aku bisa memasukkan penisku ke selangkangannya bersetara dengan meremas-remas payudaranya

Sesudah perbincangan iseng itu aku menjadi lebih memandang gerak-gerik Mbak Sus. Malahan aku kini sengaja lebih sering berdiskusi dengan ia. Kulihat wanita itu hening-hening saja walau mengenali aku sering merampok pandang ke arah dadanya bersetara dengan menelan air liur
Suatu masa dikala berjalan berpapasan tanganku dengan tak sengaja meraba pinggulnya dengan MESUM “Wah. maaf, Mbak. Nggak sengaja”. kataku bersetara dengan tersipu malu “Sengaja juga nggak apa-apa kok dik”, jawabnya bersetara dengan mengerlingkan matanya Dari situ aku mulai merampungkan apakah yang disebut Robin mendekati kebenaran. Mbak Sus terang terang berusaha memancing, dapat jadi tak puas dengan kehidupan seksualnya bersama suaminya

Makin lama aku bertambah berani. beberapa kali aku sengaja menyenggol pinggulnya. Eh ia cuma tersenyum-senyum. Aksi bandel malah kutingkatkan. Bukan menyenggol lagi melainkan meremas. Sialan, reaksinya berimbang saja. tak salah apabila aku mulai berangan-angan suatu ketika berharap menyetubuhi ia. Kans itu hakekatnya cukup banyak. Seminggu tiga kali suaminya dinas malam. Ia sendiri telah membagikan pedoman-pedoman welcome.

cuma aku masih takut. Siapa tahu ia mempunyai kelainan, adalah menyukai memamerkan perangkat badannya yang cantik dengan tak adanya niat lain. Tapi birahiku rasanya tak tertahankan lagi. tiap-tiap malam yang adanya dalam bayanganku yaitu menyusup membisu-membisu ke kamarnya, menciumi serta menjilati seluruh tubuhnya, meremas payudara serta pinggulnya, sesudah itu melesakkan penis ke vaginanya

Suatu hari dikala rumah sepi. Empat temanku masuk kuliah atau mempunyai kesibukan keluar, bapak serta ibu kosku menghadiri pesta pernikahan kerabatnya di luar kota, sementara suami Mbak Sus ke kantor. aku berdiskusi dengan ia di ruang tetamu bersetara dengan menonton TV.

Semula perbincangan hanya soal-soal biasa serta lazim. Entah mendapat dorongan dari mana sesudah itu aku mulai ngomong agak menyerempet-nyerempet

“Aku hakekatnya sangat mengagumi Mbak Sus lo”, kataku “Kau ini ada-ada saja. Memangnya aku ini bintang sinetron atau figur” “Sungguh kok. Tahu nggak apakah yang kukagumi kepada Mbak?”

“Coba apa” “Mengecup” “Mana?”
Tanpa ragu-ragu lagi aku menyentuhkan telunjukku ke payudaranya yang layaknya lazim hanya dibungkus kaus “Ah. kau ini”

Reaksinya kian membuatku berani. aku mendekat. Ia pipinya dari belakang tempat duduk daerah duduknya. Mbak Sus membisu. seketika ganti kucium lehernya yang putih. Ia menggelinjang kegelian, melainkan tak berusaha menolak. Wah, peluang nih. kini bersetara dengan menciumi lehernya tanganku bergerilya di zona dadanya. Ia berusaha menepis tanganku yang ngawur, melainkan aku tak ingin keok. Remasanku terus kulanjutkan

“Dik. malu ah ditinjau orang”, katanya perlahan. Tepisannya melemah “Kau demikian itu kita ke kamar?”

“Kau ini bandel”, ujarnya dengan tak berusaha lagi menghentikan serbuan tangan serta bibirku

“Mbak” “Hmm” “Bolehkah mm,. bolehkah apabila aku” “Apa hh” “Bolehkah saya membatasi susu Mbak yang gede itu?”

“Hmm”. Ia mendesah dikala kujilat alat pendengarannya Tanpa menunggu jawabannya tanganku dengan kencang menelusup ke balik kausnya. mengalami alangkah empuknya daging yang membukit itu. Kuremas dua payudaranya dari belakang dengan kedua tanganku. Desahannya kian kuat. seketika kepalanya disandarkan ke dadaku. Aduh mak, bermakna ia oke. Tanganku kian giat. kini kedua putingnya ganti kupermainkan

“Dik, tutup pintunya dahulu dong”, bisiknya dengan bunyi agak bergetar, dapat jadi membendung daya seksualitasnya yang juga mulai naik Tanpa dipinta dua kali secepat kilat aku dengan kencang mengcover pintu depan. terang saja agar situasi safe serta terkendali. sehabis itu aku kembali ke Mbak Sus. kini aku jongkok di depannya. Menyibak rok bawahnya serta merenggangkan kedua kakinya. Wuih, alangkah mulus kedua pahanya. Pangkalnya kelihatan menggunduk dibungkus celana dalam warna krem. bersetara dengan menciumi pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas Miss V serta klitorisnya yang juga besar. Lidahku kian naik ke atas. Mbak Sus menggelinjang kegelian bersetara dengan mendesah halus. jilatanku hingga di pangkal pahanya.

Share this post:

Related Posts